Rabu, 03 Oktober 2012

Makalah Pemasangan Nasogatric


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Nasogastric Tubes (NGT) sering digunakan untuk menghisap isi lambung, juga digunakan untuk memasukan obat-obatan dan makananan. NGT ini digunakan hanya dalam waktu yang singkat. (Metheny & Titler, 2001).
Untuk memenuhi kebutuhan pasien, pengetahuan dan kemampuan perawat dalam memasukan dan melakukan perawatan NGT adalah sangat dibutuhkan.
Bagi anak-anak,kebutuhan akan NGT disebabkan oleh beberapa kondisi seperti anomali anatomi jalan makanan; oesophagus atau alat eliminasi, kelemahan reflek menelan, distress pernafasan atau tidak sadarkan diri. Keselamatan adalah selalu menjadi perhatian,dimana kerjasama perawat pasien dan keluarga sangat dibutuhkan dan pada sebagian anak terkadang agak sedikit dipaksakan.
Sebagai perawat profesional,harus berhati-hati dalam melaksanakan tindakan serta memperhatikan keunikan variasi di dalam melaksanakan tindakan secara aman dan nyaman. (WALLEY & WONG, 2000).
B. RUMUSAN MASALAH

Ø  Apa yang dimaksud dengan NGT ?
Ø  Apa tujuan dan manfaat dari pemasangan NGT ?
Ø  Bagaimana tindakan pemasangan dari NGT ?





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. LANDASAN TEORI
Nasogastric Tubes (NGT) sering digunakan untuk menghisap isi lambung, juga digunakan untuk memasukan obat-obatan dan makananan. NGT ini digunakan hanya dalam waktu yang singkat. (Metheny & Titler, 2001).
Tindakan pemasangan Selang Nasogastrik adalah proses medis yaitu memasukkan sebuah selang plastik ( selang nasogastrik, NG tube) melalui hidung, melewatI tenggorokan dan terus sampai ke dalam lambung.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Nasogastric_intubation)
Nasogastrik: Menunjuk kepada jalan dari hidung sampai ke lambung.
Selang   Nasogastrik   adalah   suatu   selang   yang  dimasukkan  melalui  hidung ( melewati nasopharynx dan esophagus ) menuju ke lambung.
Singkatan untuk Nasogastrik adalah NG. Selangnya disebut selang Nasogastrik.
"Nasogastric" terdiri dari dua kata, dari bahasa Latin dan dari bahasa Yunani, Naso adalah suatu kata yang berhubungan dengan hidung dan berasal dari Latin “nasus” untuk hidung atau moncong hidung.
Gastik berasal dari bahasa Yunani “gaster” yang artinya the paunch ( perut gendut) atau yang berhubungan dengan perut. Istilah “nasogastric” bukanlah istilah kuno melainkan sudah disebut pada tahun 1942.
(http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=9348)
1. DEFINISI NGT
Selang Nasogastrik atau NG tube adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung. Sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga dapat digunakan untuk mengeluarkan isi dari lambung dengan cara disedot.
(http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_tube.htm )
2. TUJUAN DAN MANFAAT TINDAKAN
Naso Gastric Tube digunakan untuk:
1.        Mengeluarkan isi perut dengan cara menghisap apa yang ada dalam lambung (cairan,udara,darah,racun).
2.        Untuk memasukan cairan( memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi).
3.        Untuk membantu memudahkan diagnosa klinik melalui analisa subtansi isi lambung.
4.        Persiapan sebelum operasi dengan general anaesthesia.
5.        Menghisap dan mengalirkan untuk pasien yang sedang melaksanakan operasi pneumonectomy untuk mencegah muntah dan kemungkinan aspirasi isi lambung sewaktu recovery (pemulihan dari general anaesthesia).
Nutrisi Enteral
Nutrisi Enteral merupakan pemberian nutrient melalui saluran cerna dengan menggunakan sonde (tube feeding).
Nutrisi enteral direkomendasikan bagi pasien-pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara volunter melalui asupan oral.
Pemberian nutrisi enteral dini (yang dimulai dalam 12 jam sampai 48 jam setelah pasien masuk ke dalam perawatan intensif [ICU]) lebih baik dibandingkan pemberian nutrisi parenteral.
Manfaat dari pemberian nutrisi enteral antara lain:
• Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus.
• Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna.
• Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna.
• Mengurangi proses katabolic.
• Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna.
• Mempercepat penyembuhan luka.
• Lebih murah dibandingkan nutrisi parenteral.
• Lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih pendek dibandingkan dengan  
   Nutrisi Parenteral.
• Pasien-pasien yang dapat diberikan nutrisi enteral adalah mereka yang tidak bisa
   makan, tidak dapat makan, dan tidak cukup makan. (ASPEN, 1998)
“Bila usus bekerja, gunakanlah.” Kalimat yang sudah sering diucapkan berulang-ulang kali itu, merupakan panduan untuk pemberian dukungan nutrisi.
Biasanya, adanya bunyi usus dan flatus merupakan indikator bahwa saluran cerna berfungsi, khususnya pada pasien-pasien paska pembedahan.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa motilitas saluran cerna yang menurun pada periode paska operasi ini, hanya mempengaruhi lambung dan usus besar (kolon), dan tidak mempengaruhi fungsi usus halus.
Berkurangnya ataupun hilangnya bunyi usus tidak perlu sampai menghambat pemberian nutrisi enteral (Lewis et al 2001).Sebaliknya, adanya bunyi usus juga tidak menjamin bahwa pemberian nutrisi enteral bisa sukses, misalnya pada pasien-pasien dengan Intractable diarrhea.
3. DOKUMENTASI
Catat hal-hal berikut pada lembar dokumentasi:
1.    Tanggal dan waktu insersi selang.
2.    Wakt dan jumlah drainase.
3.    Ukuran dan tipe selang.
4.    Toleransi klien terhadap prosedur.
4. KOMPLIKASI YANG DISEBABKAN OLEH  NGT
a. Komplikasi mekanis
·       Sondenya tersumbat.
·       Dislokasi dari sonde, misalnya karena ketidaksempurnaan melekatkatnya sonde dengan plester di sayap hidung.
b. Komplikasi pulmonal: misalnya aspirasi.
    Dikarenakan pemberian NGT feeding yang terlalu cepat
c. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde
·      Yang mempunyai jerat.
·      Yang menyerpai simpul.
·      Apabila sonde terus meluncur ke duodenum atau jejunum.
Hal ini dapat langsung menyebabkan diare.
d. Komplikasi yang disebabkan oleh zat nutrisi
B. PENKAJIAN
Pengkajian pada pasien yang akan dilakukan pemasangan NGT meliputi:
1.    Biodata klien: Nama, jenis kelamin, usia, pekerjaan,tingkat pendidikan, Diagnosa medis,Tanggal admission.
2.    Riwayat kesehatan: Riwayat Masa lalu klien, Riwayat kesehatan keluarga dan Riwayat kesehatan klien saat ini.
3.    Kondisi kesehatan saat ini.
Pemeriksaan fisik:
·      Kesadaran umum: Allert/letargic, (regular/irregular),Pulse rate,Blood pressure.
·      Tanda-tanda Vital: Respiration(regular/irregular),Respiration rate,Pulse rate,Blood pressure.
·       Head to too; Apakah terdapat trauma di bagian kepala; nasophageal trauma,skull fracture,maxilo fracture,cervical fracture,disphagia,atresia oesophagus,naso-oro-pharyngeal burn.apakah terdapat paresthesia, hemipharesis,Apakah terdapat alat bantu pernafasan;pemasangan mask oksigen,nasal canula,endotracheal tube,guedel/mayo,ventilator,distensi abnominal, muntah(cairan,darah;warna,konsistensi).
Data Penunjang:
·      Oxygen saturation
·      Chest X-Ray
NGT on Chest-X Ray dan Upper Abdominal X Ray sesudah insertion untuk memastikan posisi NGT di lambung.
·      Laboratorium: sample darah lengkap,urine,stool.
PENGKAJIAN SECARA UMUM
Pengkajian harus berfokus pada:
·      Instruksi dokter tentang tipe slang dan penggunaan slang.
·      Ukuran slang yang digunakan sebelumnya, jika ada.
·      Riwayat masalah sinus atau nasal.
·      Distensi abdomen, nyeri atau mual.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan pemasangan NGT adalah sebagai berikut :
·      Gangguan  pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan.
·      Gangguan Rasa Nyaman : mual muntah.
·      Kurang pengetahuan.
C. PERENCANAAN SECARA UMUM
Perencanaan untuk pemasangan NGT sesuai dengan tujuan dan manfaat tindakan dan indikasi kontraindikasi. Perencanaan keperawatan yang bertujuan untuk menghindari beberapa komplikasi :
1. Komplikasi mekanis
a)    Agar sonde tidak tersumbat perawat atau pasien harus teratur membersihkan sonde dengan menyemprotkan air atau teh sedikitnya tiap 24 jam, bila aliran nutrisi enteral sementara terhenti, sonde harus dibersihkan setiap 30 menit dengan menyemprotkan air atau teh.
b)   Agar sonde tidak mengalami dislokasi sonde harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik tanpa menimbulkan rasa sakit, posisi kepala pasien harus lebih tinggi dari alas tempat tidur (+ 30°).
2. Komplikasi pulmonal: aspirasi.
a)    Kecepatan aliran nutrisi enteral tidak boleh terlalu tinggi.
b)   Letak sonde mulai hidung sampai ke lambung harus sempurna.
Untuk mengontrol letak sonde tepat di lambung, kita menggunakan stetoskop guna auskultasi lambung sambil menyemprot udara melalui sonde.
3.  Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde.
a)    Sebelum sonde dimasukkan, harus diukur dahulu secara individual (pada setiap pasien) panjangnya sonde yang diperlukan, dari permukaan lubang hidung sampai keujung distal sternum.
b)   Sonde harus diberi tanda setinggi permukaan lubang hidung.
c)    Sonde harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik tanpa menimbulkan rasa sakit.
d)   Perawat dan pasien harus setiap kali mengontrol letaknya tanda di sonde, apakah masih tetap tidak berubah (tergeser).
4. Komplikasi yang disebabkan oleh yang zat nutrisi antara lain :
a)    Komplikasi yang terjadi di usus :
·      Diare
·      Perut terasa penuh
·      Rasa mual, terutama pada masa permulaan pemberian nutrisi enteral
b)   Komplikasi metabolik hiperglikemia
Perencanaan keperawatanya dari komplikasi yang terjadi di usus
Pemberian nutrisi enteral harus dilakukan secara bertahap.
Tahap pembangunan; dengan mempergunakan mesin pompa
Hari 1 : kecepatan aliran 20 ml/jam = 480 ml/hari
Hari 2 : kecepatan aliran 40 ml/jam = 960 ml/hari
Hari 3 : kecepatan aliran 60 ml/jam = 1440 ml/hari
Hari 4 : kecepatan aliran 80 ml/jam = 1920 ml/hari
Hari 5 : kecepatan aliran 100 ml/jam = 2400 ml/hari = 2400 kcal/hari
Kekurangan kebutuhan cairan dalam tubuh pada hari pertama sampai dengan hari keempat harus ditambahkan dalam bentuk air, teh atau dengan sistem infus (parenteral).
Selanjutnya ada dua kemungkinan:
Kemungkinan I
Nutrisi enteral konsep 24 jam:
Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 100 ml/jam = 2400 ml/hari =
 2400 kcal/hari.
Kemungkinan II
Hari 6: kecepatan aliran 120 ml/jam (selama 20 jam/hari)
Hari 7: kecepatan aliran 140 ml/jam (selama 17 jam/hari)
Hari 8: kecepatan aliran 160 ml/jam (selama 15 jam/hari)
Hari 9: kecepatan aliran 180 ml/jam (selama 13 jam/hari)
Hari 10: kecepatan aliran 200 ml/jam (selama 12 jam/hari)
Nutrisi enteral konsep 12 jam
Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 200 ml/jam = 2400ml/hari =
2400 kcal/hari
Maksud konsep 12 jam ini agar pasien hanya terikat oleh pemberian nutrisi enteral selama 12 jam sehari. Misalnya,hanya antara jam 19 sampai jam 7 pagi sambil tidur. Apabila timbul rasa mual atau diare, pada waktu tahap pembangunan dianjurkan supaya kecepatan aliran nutrisi enteral diturunkan 40 ml/jam.
Contoh :
26 Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987
Pada kecepatan 100 ml/jam, pasien merasa mual dan mendapat diare.
Dianjurkan:
- kecepatan diturunkan sampai 60 ml/jam
- ditunggu 24 sampai 48 jam sehingga rasa mual dan diare hilang
- setelah rasa mual dan diare hilang, kecepatan boleh dinaikkan lagi menjadi 80 
   ml/jam
- tunggu lagi 48 jam
- bila tak ada keluhan, kecepatan boleh dinaikkan lagi menjadi 120 ml/jam, dan
 
  seterusnya.
Tiap kali timbul rasa mual atau diare, kecepatan aliran nutrisi langsung dikurangi 40 ml/jam dan perlahan-lahan setelah rasa mual dan diare hilang, kecepatan dinaikkan lagi.
Perencanaan keperawatan dari komplikasi metabolik
- Periksa kadar gula dalam darah selama nutrisi enteral.
- Bila terjadi hiperglikemia, terutama pada pasien-pasien yang menderita diabetes
   melitus, harus dilakukan terapi dengan insulin.
D. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
1) Indikasi
·      Pasien dengan distensi abdomen karena gas,darah dan cairan.
·      Keracunan makanan minuman.
·      Pasien yang membutuhkan nutrisi melalui NGT.
·      Pasien yang memerlukan NGT untuk diagnosa atau analisa isi lambung.
2) Kontraindikasi
Nasogastric tube tidak dianjurkan atau digunakan dengan berlebihan kepada beberapa pasien predisposisi yang bisa mengakibatkan bahaya sewaktu memasang NGT, seperti:
·      Klien dengan sustained head trauma, maxillofacial injury, atau anterior fossa skull fracture. Memasukan NGT begitu saja melalui hidung maka potensial akan melewati criboform plate, ini akan menimbulkan penetrasi intracranial.
·      Klien dengan riwayat esophageal stricture, esophageal varices, alkali ingestion juga beresiko untuk esophageal penetration.
·      Klien dengan Koma juga potensial vomiting dan aspirasi sewaktu memasukan NGT, pada tindakan ini diperlukan tindakan proteksi seperti airway dipasang terlebih dahulu sebelum NGT.
·      Pasien dengan gastric bypass surgery yang mana pasien ini mempunyai kantong lambung yang kecil untuk membatasi asupan makanan konstruksi bypass adalah dari kantong lambung yang kecil ke duodenum dan bagian bagain usus kecil yang menyebabkan malabsorpsi(mengurangi kemampuan untuk menyerap kalori dan nutrisi.



BAB III
PEMBAHASAN

A. IMPLEMENTASI PEMASANGAN NGT
            Insersi slang nasogastrik meliputi pemasangan slang plastik lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung. Slang mempunyai lumen berongga yang memungkinkan baik pembuangan sekret gastrik dan pemasukan cairan ke dalam lambung.
            Pelaksana harus seorang professional kesehatan yang berkompeten dalam prosedur dan praktek dalam pekerjaannya. Pengetahuan dan ketrampilan dibutuhkan untuk melakukan procedure dengan aman adalah :
1)   Anatomi dan fisiologi saluran gastro-intestinal bagian atas dan system pernafasan.
2)   Kehati-hatian dalam procedure pemasangan dan kebijaksanaan penatalaksanaan NGT. Pengetahuan mendalam pada pasien ( misalnya : perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat mambuat sulitnya pemasangan NGT tersebut.
Kegunaan :
  • Memungkinkan dukungan nutrisi melalui saluran gastrointestinal
  • Memungkinkan evakuasi isi lambung 
  • Mencegah regurgitasi dan aspirasi isi lambung

Perhatian :
  • Riwayat masalah sinus atau nasal ( infeksi, sumbatan, polip dll )
  • Kesadaran dan riwayat MCI
  • Refleks Vagal
  • Perdarahan karena prosedur yang agresif
  • Selang NGT masuk ke Trakea
  • Diharapkan pasien telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan.
  • Pasien yang telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan pasien atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent.
Persiapan Alat :
  1. Slang nasogastrik sesuai ukuran  (ukuran 14-18 fr)
  2. Pelumas/ jelly
  3. Spuit berujung kateter 50 ml
  4. Stetoskop
  5. Lampu senter/ pen light
  6. Klem
  7. Handuk kecil
  8. Tissue
  9. Spatel lidah
  10. Sarung tangan dispossible
  11. Plester
  12. Nierbekken
  13. Bak instrumen
PELAKSANAAN
  1. Cuci tangan dan atur peralatan.
  2. Jelaskan prosedur pada pasien.
  3. Bantu pasien untuk posisi Fowler.
  4. Berdirilah disisi kanan tempat tidur pasien bila anda bertangan dominan kanan(atau sisi kiri bila anda bertangan dominan kiri).
  5. Periksa dan perbaiki kepatenan nasal. Minta pasien untuk bernafas melalui satu lubang hidung saat lubang yang lain tersumbat, ulangi pada lubang hidung yang lain, Bersihkan mukus dan sekresi dari hidung dengan tissue lembab atau lidi kapas. Periksa adakah infeksi dan lain-lain.
  6. Tempatkan handuk mandi diatas dada pasien.
  7. Persiapkan tissue dalam jangkauan.
  8. Gunakan sarung tangan.
  9. Tentukan panjang slang yang akan dimasukkan dan ditandai dengan plester.
    Ukur jarak dari lubang hidung ke daun telinga, dengan menempatkan ujung melingkar slang pada daun telinga; Lanjutkan pengukuran dari daun telinga ke tonjolan sternum; tandai lokasi di tonjolan sternum dengan plester kecil.
  10. Minta pasien menengadahkan kepala, masukkan selang ke dalam lubang hidung yang paling bersih.
  11. Pada saat anda memasukkan slang lebih dalam ke hidung, minta pasien menahan kepala dan leher lurus dan membuka mulut.
  12. Ketika slang terlihat dan pasien bisa merasakan slang dalam faring, instruksikan pasien untuk menekuk kepala ke depan dan menelan.
  13. Masukkan slang lebih dalam ke esofagus dengan memberikan tekanan lembut tanpa memaksa saat pasien menelan (jika pasien batuk atau slang menggulung di tenggorokan, tarik slang ke faring dan ulangi langkah-langkahnya), diantara upaya tersebut dorong pasien untuk bernafas dalam.
  14. Ketika tanda plester pada selang mencapai jalan masuk ke lubang hidung, hentikan insersi selang dan periksa penempatannya:minta pasien membuka mulut untuk melihat slang, Aspirasi dengan spuit dan pantau drainase lambung, tarik udara ke dalam spuit sebanyak 10-20 ml masukkan ke selang dan dorong udara sambil mendengarkan lambung dengan stetoskop jika terdengar gemuruh, fiksasi slang.
  15. Untuk mengamankan slang: gunting bagian tengah plester sepanjang 2 inchi, sisakan 1 inci tetap utuh, tempelkan 1 inchi plester pada lubang hidung, lilitkan salah satu ujung, kemudian yang lain, satu sisi plester lilitan mengitari slang.
16.  Plesterkan slang secara melengkung ke satu sisi wajah pasien. Pita karet dapat Digunakan untuk memfiksasi slang.

Catatan :
Posisi Fowler : Pasien duduk setengah tegak (45 – 60 derajat ) , lutut boleh ditekuk atau lurus. Ada 3 jenis posisi fowler :
High Fowler : Kepala pasien diangkat 80 – 90 derajat
Semi Fowler : Kepala pasien diangkat 30 – 45 derajat
Low  Fowler : Kepala pasien diangkat < 30 derajat

fowler










BAB IV
EVALUASI

Setelah melakukan proses keperawatan baik dari hasil pengkajian diagnosa perencananaan pemasangan NGT perlu dikaji hasil yang diharapkan sudah tercapai atau belum. Pengkajian yang terus – menerus terhaap kriteria hasil yang diharapkan sehingga tercapai tindakan keperawatan yang berkualitas.
1.    Tidak terjadi komplikasi aspirasi, nasal irritation, sinusitis, epistaxis, rhinorrhea, skin erosion or esophagotracheal fistula sebagai dampak dari pemasangan NGT.
2.    Tingkat pengetahuan pasien dan keluarga akan bertambah, bisa diajak berkerjasama dalam melaksanakan asuhan keperawatan secara utuh baik pengkajian, menentukan masalah, perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi.
3.    Kebutuhan pasien terpenuhi secara adekuat baik berupa kebutuhan nutrisi maupun cairan.










BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.      Selang Nasogastrik atau NG tube adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung. Sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga dapat digunakan untuk mengeluarkan isi dari lambung dengan cara disedot.
(http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_tube.htm )
2.      Naso Gastric Tube digunakan untuk:
a)    Mengeluarkan isi perut dengan cara meghisap apa yang ada dalam lambung (cairan, udara, darah, racun).
b)   Untuk memasukan cairan (memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi).
c)    Untuk membantu memudahkan diagnosa klinik melalui analisa substansi isi lambung.
d)   Persiapan sebelum operasi engan general anaesthesia.
e)    Menghisap dan mengalirkan untuk pasien yang sedang melaksanakan operasi pneumonectomy untuk mencegah muntah dan kemungkinan aspirasi isi lambung sewaktu recovery (pemulihan dari general anaesthesia).
3.      Manfaat dari pemasangan NGT :
• Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus.
• Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna.
• Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna.
• Mengurangi proses katabolic.
• Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna.
• Mempercepat penyembuhan luka.
• Lebih murah dibandingkan nutrisi parenteral.
• Lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih pendek dibandingkan  
  dengan Nutrisi Parenteral.
• Pasien-pasien yang dapat diberikan nutrisi enteral adalah mereka yang
   tidak bisa makan, tidak dapat makan, dan tidak cukup makan.
  (ASPEN, 1998)














DAFTAR PUSTAKA
ADA Pocket Guide to Enteral Nutrition. American Dietetic Association, 2006.
http://bedahumum.com/bu/index.php?option=com_content&view=article&id=26
:pemasangan-nasogastric-tube-ngt&catid=3:artikel&Itemid=5.
Source : http://athearobiansyah.blogspot.com/2008/06/pemasangan-slang-nasogastrik-ngt.htm


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar